Masih
teringat jelas dalam sadarku , saat aku mulai memberanikan diri untuk merubah
jalan hidup dan pikiranku. Semua itu dimulai saat aku baru menginjakkan kakiku
di suatu masa yang katanya adalah masa dimana kita belajar tentang hidup ,
tentang perjuangan , tentang arti dari sebuah keikhlasan berfikir , bekerja dan
bertanggung jawab . mungkin terlalu cepat, ketika seorang pemuda biasa memegang
dan membaca buku yang menuliskan sebuah
pencarian tentang Tuhan sebenarnya , Tuhan yang memang sebagai pencipta dirinya
dan tempat berbagi akan semua yang dirasanya.
Semua
itu dimulai dengan ketidak sengajaan dari diriku sendiri tapi aku percaya itu
adalah kesengajaan yang Tuhan ciptakan untukku . Saat itu usiaku masih sekitar
enam belas tahun , masih berseragam kebesaranku , seragam putih abu abu
bertuliskan salah satu nama sekolah menengah atas yang tak sebegitu favorit di
kotaku .
Masih
terasa begitu letih , dengan sedikit wajah kucel dan berminyak kubuka pintu
rumah , sepi tanpa suara kulangkahkan
kakiku menuju kamar yang letaknya pas ditengah bangunan rumahku . Segera ku
taruh helm hitam yang baru dibelikan sama pacarku saat itu , masih dengan
seragam yang menempel di badan yang sudah tak karuan baunya karena keringat aku
menuju kamarku yang asli .
Kulihat
ibuku tertidur , ya memang sejak ibuku menderita sakit aneh yang menimpanya
bersamaan dengan hamilnya adik terakhirku Andini . Sebagai seorang pedagang ,
sebenarnya apa yang menimpa ibuku adalah sesuatu yang lumrah dan wajar meskipun
tidak semua pedagang mengalaminya . Ibuku sakit memang kuasa Tuhan , tapi
sedikit ulah manusia yang tak mengerti Tuhan membuatnya merasakan sakit yang
memang diolah dengan akal akupun tak sampai .
Pada
saat itu , yang aku tahu ibuku memang hamil , tapi dalam janin yang beliau
kandung ada sebuah onggokan daging yang menyerupai bentuk bayi didalamnya . Ini
semua diketahui saat ibu menjalani pemeriksaan kehamilan , ada keganjilan yang
oleh medis dirasa aneh , dimana daging tersebut terkadang terlihat dan
terkadang tidak terlihat dalam setiap pemeriksaan kehamilannya .
Aku
menyadari pada saat itu keadaan keluargaku memang sedang berantakan , bukan
masalah ekonomi tapi berantakan dalam managemen keluarga , dimana keadaan
nyaman saat ibuku masih sehat kemudian berputar
dan terbalik . Semua pos pos kerjaan dimana ibuku yang biasanya
mengerjakan berpindah tangan kepadaku .
Mulai dari urusan pekerjaan seorang pedang dan tengkulak Ikan di sebuah
pelelangan , urusan sumur , urusan dapur bahkan urusan urusan yang semestinya
kodrat wanita yang mengerjakannya seperti menyiapkan keperluan bapak dan adik
adikku.
Di
desa tempat asalku sudah menjadi kewajiban bahwa jika membangun rumah , harus
bersama sama berdekatan berhimpitan dengan saudara saudara yang lain . meskipun
demikian bukan jaminan ketika sseorang mengalami kesusahan, orang terdekat
seperti saudarapun mau untuk ikut membantu atau bahkan malah orang lain
yang dengan tanggap ada saat kita membuthkan . Mengapa bias seperti itu ? ,
coba tanyakan kepada Tuhan yang dengan kuasanya bias memutar balikan hati dan
perasaan seseorang untuk menjadi pribadi yang baik atau buruk .
Memang
pada saat itu hubungan bapak dengan
saudaranya yang lain sedang keruh , kekeruhan itu disebabkan sesuatu yang
memang sensitive yaitu harta warisan . Dimana bapak cuma ingin apa yang menjadi
hak keponakannya (anak dari kakak pertama bapak) diberikan , dan tidak dimakan
sendiri atau dibagi bagi layaknya sebuah komisi tender oleh saudaraku yang lain
.
Mungkin
itu mengapa , ketika ibu sakit dirumah atau bahkan ketika dirawat di rumah
sakit lebih banyak orang lain yang datang untuk sekedar menjnguk atau merawat
ibu . Pernah suatu ketika saat aku dan adikadiku sekolah , bapak pergi ke
pelelangan. Ibuk menangis menahan sakit sendirian , sampai adikku datang dari
sekolah dan kemudian meminumkan obatnya untuk kedua kali dalam waktu yang relative singkat.
Diusiaku
yang masih enam belas tahun pada saat itu , aku mulai belajar dan mencoba
memahami apa yang terjadi apa yang terlihat dan tampak didepanku . Aku juga
mulai belajar berkompromi dengan keadaan , dengan kewajiban dan tanggung jawab
sebagai anak pertam yang menggantikan kewajiban ibuku . Ada kalanya aku harus
jadi ibuku dengan beres beres rumahnya , ada kalanya aku jadi ibuk yang pergi
ke pelelangan ke ikan untuk mengecek , ngepack dan mendistribusikan ikan kepada
pelanggan . Mungkin itu yang membentuk karakter kerasku baik dari omongan dan
tindakan , dimana orang orang sekitarku adalah orang orang yang sangat keras
dalam berjuang , karena untuk bertahan
hidup mereka harus melawan panasnya matahari , gulungan ombak dan dinginnya
angin ditengah laut dimalam hari .
Selain
itu semua itu mengajarkannku untuk professional membagi waktu , Dimana dimalam
hari aku harus di pelelangan untuk menjadi seorang tengkulak ikan dengan
transaksi penjualan berkwintal kwintal dan
dipagi hari aku harus bisa jadi pelajar baik yang tidak tertidur dalam kelas . Mungkin
itu yang mengakibatkan aku sangat tidak suka melihat dan berurusan dengan
mereka siapapun yang tidak bisa bertanggung jawab dengan waktu . Aku selalu punya pemikiran sepintar apapun
seseorang tapi dia tidak bisa bertanggung jawab dan professional terhadap waktu
, buatku dia seperti seorang kesatria
tapi selalu tertinggal di medan perang , secara kasar sebutlah pecundang .
Semua
itu terjadi hampir delapan bulan lamanya
, sampai disuatu malam secara kebetulan menurutku tapi tidak kebetulan menurut
Tuhan , datanglah seorang teman bapak yang memiliki sebuah kemampuan lebih
merasakan keganjilan yang terjadi . Masih teringat jelas ketika orang tersebut
menyuruh bapak berwudhu , dan melakukan bacaan Quran dan beberapa wirit selama
beberpa jam . Aku juga masih ingat bagaimana hawa yang aku rasakan dirumah sangatlah
panas sampai butir butir keringat sudah sebesar jagung . Dan aku masih ingat ,
dengan mata telanjang aku melihat sebuah
cahaya merah terang keluar dari kamarku tempat ibuku tidur . Setelah itu apa
yang dirasakan sangatlah berbeda dengan sebelumnya , hembusan angin , wangi
semacam melati dan kurasakan juga energy yang sangat baik saat itu.
Mungkin
itu yang selama ini menyiksa keadaan ibuku , membuat nya tak berdaya dan harus
berada diatas kasur tujuh bulan lebih . Beberapa hari kemudian keadaan ibuku
semakin baik baik dan sembuh seperti semula . Inilah hidup bagaimana terkadang
rasa kurang dan serakah mengakibatkan seseorang tega kepada orang lain . Cuma
urusan takut saingan dagang ,
kehormatannya menjadi seorang manusia harus tergadai bahkan terbuang . Senyum
ketika orang lain menderita , dan menangis ketika orang lain berbahagia adalah
sedikit contoh penyakit hati .
Sekarang
aku Cuma bisa berterimakasih kepada Tuhan , telah memberi semua itu sebagai
pengalaman dan ruang / tempat belajar . Selain itu aku juga bersyukur dipertemukan orang tersebut yang kemudian mengajarkan dan menuntunku untuk
sedikit berfikir dan berperilaku Sufism . Dimana mencoba dengan keras dan
sebisanya aku untuk bercengkrama langsung dengan Tuhan . Memperkenalkan aku dengan Jalaludinrumi
yang mengekspresikan cintanya kepada Tuhan lebih besar daripada yang lain.
Ikhlas dan husnudzon terhadap Tuhan adalah pelajaran yang paling dasar yang beliau
ajarkan kepadaku dengan mempercayai apa yang terjadi pada saat itu kepadaku dan
keluargaku adalah versi jalan takdir kehidupan yang terbaik diberikan
Tuhan untuk aku . Semoga kelak aku atau kamu yang akan sampai duluan dalam
penemuan jalan sunyi menuju jalan pribadi antara makhluk dan penciptaNya.
Percayalah baik atau buruk yang terjadi pada kita , ikhlaslah dan khusnudzonlah itu adalah cerita terbaik yang dibuat Allah untuk kita , bersihkan hati buanglah benci dari hatimu meskipun banyak orang membencimu , berilah cinta meski tak seorang pun memberi cinta untukmu , karena itu salah satu cara kita bisa merasakan nikmatnya berhubungan dengan Allah.
Menangislah ketika banyak orang yang mencintai kita , tersenyumlah ketika banyak orang membenci kita , karena itu bisa mengantarkan kita lebih dekat dan bergantung penuh kepadaNya
