Selasa, 12 Maret 2013

#CintaNesia | "Masih Enak Jaman Pak Harto"



Malam itu baru selesai hujan , suhu  di kota kota ini pun terasa lebih sejuk , bisa juga dibilang dingin .
Petang pun baru dimulai , pas setelah melaksanakan kewajiban seorang muslim yaitu sholat maghrib , akupun bergegas untuk keluar , yah malam itu aku rasa malam yang pas buat menikmati coklat panas sambil ngomongin kerjaan bareng seorang temen dari kampus sebelah .

Sebelum berangkat ke tempat tujuan , aku sempatin mampir ke Atm buat ngambil duit , maklumlah anak kos , jangan sering ada duit banyak di dompet bahaya bisa boros :) . 
Setelah itu , mampir makan juga,  entah kenapa kok rasanya malam itu pengen banget makan nasi goreng jawa depan kampus , yaudah sekalian aja mampir makan .

Diawalai dengan sapaan khas dari abang penjual nasi goreng ," Kate mangan opo kate tembel ban ,(mau makan apa mau tambal ban ) sapanya sambil tersenyum.
Kemudian aku jawab ngaco aja , " Ora mas , ape renang iki. (enggak mas , mau renang ). kemudian kita berdua ketawa kecil . Mungkin karena udah sering banget aku makan disana ,abang penjual nasi goreng ini pun tak perlu tanya aku mau pesen apa .
Tetep tak ada yang berubah dari abang nasi goreng yang satu ini , tetep dengan tubuh tambunnya dan konyolnya . Di samping gerobak nasi goring si abang ini , ada juga bapak bapak paruhbaya yang ikutan jualan juga , tapi jualan cikar , alias cilok bakar .
Sambil nungguin nasi goring jawanya mateng , Tak lupa aku sapa juga bapak bapak sebelah ini.
“Piye kabare pake? sehat ? (gimana kabarnya pak ? sehat?) tanyaku ke bapak penjual cilok tersebut.  

“Alhamdulillah sehat mas , Cuma dompet yang kurang sehat , jawabnya .
Sambil mengernyitkan dahi , aku Tanya balik tu bapak penjual cilok , Lah kok saget ngoten pak ? (kok bisa begitu pak?) .
“ Lah  gimana mas , jualan sepi musim nikahan juga lahkok dibarengin ama harga bawang , harga Lombok (cabai) naik, bentar lagi harga beras , terus kita jualannya gimana mas , “ jawabnya.
“Enggeh pak , kulo ningali teng berita regine bahan bahan mundak sedanten ( Iya pak , aku juga nonton di berita harga pada naik semua) ,”ucapku.
Kemudian abang nasi goreng pun ikutan nimbrung , sambil ngasih nasi goreng pesenanku yang udah mateng . “ Mundake ikuloh mas kebangeten , dek wingi isek telung puluh limo ewu , saiki wes sewidak , seng bakulan koyok kene iki nguelu mas . (Naiknya ituloh mas kebangetan , kemarin masih tiga puluh lima ribu , sekarang udah enam puluh ribu , yang jualan seperti kita ini pusing mas ).
Sambil , menyantap nasi goreng aku cuma menganggugkan kepala .
Kemudian , bapak penjual cilok bakar pun berucap kembali ,” sek penak jaman Pak Harto , masio otoriter tapi rakyat makmur (Masih enak zaman pak Harto , meskipun otoriter rakyat makmur ).

Perkataan bapak tersebut , berhasil membuatku berhenti makan untuk beberapa saat . Memang tidak aku respon perkataan tersebut , tapi jujur omongan barusan berhasil membuatku berfikir atas keadaan bangsa ini.
Sekejap didalam otakku berterbangan pertanyaan .
Apakah benar virus RPH (rindu pak harto) sudah menyerang kembali masyarakat Indonesia , dimana masyarakat  merasakan jauhnya perbedaan mudahnya hidup di jaman Pak Harto dengan hidup jaman sekarang .
Pertanyaan yang lain pun ikutan bermunculan , apakah reformasi tahun 1998 tidak berpengaruh , dan tidak berhasil membuat masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik?

Bagaimana kinerja pemerintahan sekarang , apakaha mereka gagal?

Pertanyaan pun muncul begitu banyak , tapi perlu dipahami satu persatu tentang opini masyarakat yang mengatakan bahwa lebih enak hidup di jaman Pak harto daripada di jaman sekarang , meskipun bukan suara mayoritas tapi aku yakin , di berbagai daerah dan di hati masyarakat (awam) banyak yang berpikiran sama dengan bapak penjual cilok diatas .
Memang kita harus akui , Presiden Soeharto adalah presiden yang penuh dengan kontroversi , mulai dari kediktatorannya , isu KKN yang begitu banyak berkembang dan masih banyak yang lain . Tapi kita pun tak boleh untuk sepenuhnya menyalahkan beliau , kita harus inget dan mengapresiasi prestasi kerja beliau.
Pembangunan yang kita rasakan sekarang , swasembada di sektor pertanian dan masih banyak yang lainnya , kalo mau jujur  , kita harus mengakui jika hamper sebagian besar jalan tol yang ada di Indonesia di bangun pada era kepemimpinan Pak Harto.

Selain itu berbicara tentang , kemakmuran masyarakat itu memang benar adanya , hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya dan seringnya masyarakata berucap “Lebih enak Zaman Pak Harto”

Entahlah , bagaimana masyarakat menilai tentang Pak Harto , tapi kita sebagai pemuda perlu ikut berfikir , kok bisa masyarakat menganggap lebih enak hidup di zaman pak harto ,meskipun telah kita ketahui bersama betapa sulitnya untuk berbicara , berekspresi dan berkarya pada zaman itu.
Terus , bagaimana dengan pemimpin kita sekarang ? . Ah sudahlaah , aku mungkin bagian dari orang orang yang pesimis terhadap pemimpin kita saat ini . terlalu sibuk dengan urusan pribadinya , golongannya dan keluh kesahnya .Mungkin rakyat seperti kita tak penting untuk diurusi .

Semoga pada 2014 , ada calon yang benar benar mumpuni untuk memimpin negara yang kata cak nun adalah bocoran dari surga yang bernama Indonesia .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar