Malam itu baru selesai hujan , suhu di kota kota
ini pun terasa lebih sejuk , bisa juga dibilang dingin .
Petang pun baru dimulai , pas setelah
melaksanakan kewajiban seorang muslim yaitu sholat maghrib , akupun bergegas
untuk keluar , yah malam itu aku rasa malam yang pas buat menikmati coklat
panas sambil ngomongin kerjaan bareng seorang temen dari kampus sebelah .
Sebelum berangkat ke tempat tujuan , aku sempatin
mampir ke Atm buat ngambil duit , maklumlah anak kos , jangan sering ada duit
banyak di dompet bahaya bisa boros :) .
Setelah itu , mampir makan juga, entah
kenapa kok rasanya malam itu pengen banget makan nasi goreng jawa depan kampus
, yaudah sekalian aja mampir makan .
Diawalai dengan sapaan khas dari abang penjual
nasi goreng ," Kate mangan opo kate
tembel ban ,(mau makan apa mau tambal ban ) sapanya sambil tersenyum.
Kemudian aku jawab ngaco aja , " Ora mas , ape renang iki. (enggak mas ,
mau renang ). kemudian kita berdua ketawa kecil . Mungkin karena udah sering
banget aku makan disana ,abang penjual nasi goreng ini pun tak perlu tanya aku
mau pesen apa .
Tetep tak ada yang berubah dari abang nasi goreng
yang satu ini , tetep dengan tubuh tambunnya dan konyolnya . Di samping gerobak
nasi goring si abang ini , ada juga bapak bapak paruhbaya yang ikutan jualan
juga , tapi jualan cikar , alias cilok bakar .
Sambil nungguin nasi goring jawanya mateng , Tak
lupa aku sapa juga bapak bapak sebelah ini.
“Piye kabare
pake? sehat ? (gimana kabarnya pak ? sehat?) tanyaku ke bapak penjual cilok
tersebut.
“Alhamdulillah sehat mas , Cuma dompet yang kurang sehat , jawabnya .
“Alhamdulillah sehat mas , Cuma dompet yang kurang sehat , jawabnya .
Sambil mengernyitkan dahi , aku Tanya balik tu
bapak penjual cilok , Lah kok saget
ngoten pak ? (kok bisa begitu pak?) .
“ Lah gimana mas , jualan sepi musim nikahan juga
lahkok dibarengin ama harga bawang , harga Lombok (cabai) naik, bentar lagi
harga beras , terus kita jualannya gimana mas , “ jawabnya.
“Enggeh pak
, kulo ningali teng berita regine bahan bahan mundak sedanten ( Iya pak ,
aku juga nonton di berita harga pada naik semua) ,”ucapku.
Kemudian abang nasi goreng pun ikutan nimbrung ,
sambil ngasih nasi goreng pesenanku yang udah mateng . “ Mundake ikuloh mas kebangeten , dek wingi isek telung puluh limo ewu ,
saiki wes sewidak , seng bakulan koyok kene iki nguelu mas . (Naiknya
ituloh mas kebangetan , kemarin masih tiga puluh lima ribu , sekarang udah enam
puluh ribu , yang jualan seperti kita ini pusing mas ).
Sambil , menyantap nasi goreng aku cuma menganggugkan
kepala .
Kemudian , bapak penjual cilok bakar pun berucap
kembali ,” sek penak jaman Pak Harto ,
masio otoriter tapi rakyat makmur (Masih enak zaman pak Harto , meskipun
otoriter rakyat makmur ).
Perkataan bapak tersebut , berhasil membuatku
berhenti makan untuk beberapa saat . Memang tidak aku respon perkataan tersebut
, tapi jujur omongan barusan berhasil membuatku berfikir atas keadaan bangsa
ini.
Sekejap didalam otakku berterbangan pertanyaan .
Apakah benar virus RPH (rindu pak harto) sudah menyerang kembali masyarakat Indonesia ,
dimana masyarakat merasakan jauhnya
perbedaan mudahnya hidup di jaman Pak Harto dengan hidup jaman sekarang .
Pertanyaan yang lain pun ikutan bermunculan ,
apakah reformasi tahun 1998 tidak berpengaruh , dan tidak berhasil membuat
masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik?
Bagaimana kinerja pemerintahan sekarang , apakaha mereka gagal?
Bagaimana kinerja pemerintahan sekarang , apakaha mereka gagal?
Pertanyaan pun muncul begitu banyak , tapi perlu
dipahami satu persatu tentang opini masyarakat yang mengatakan bahwa lebih enak
hidup di jaman Pak harto daripada di jaman sekarang , meskipun bukan suara
mayoritas tapi aku yakin , di berbagai daerah dan di hati masyarakat (awam)
banyak yang berpikiran sama dengan bapak penjual cilok diatas .
Memang kita harus akui , Presiden Soeharto adalah
presiden yang penuh dengan kontroversi , mulai dari kediktatorannya , isu KKN
yang begitu banyak berkembang dan masih banyak yang lain . Tapi kita pun tak
boleh untuk sepenuhnya menyalahkan beliau , kita harus inget dan mengapresiasi
prestasi kerja beliau.
Pembangunan yang kita rasakan sekarang , swasembada
di sektor pertanian dan masih banyak yang lainnya , kalo mau jujur , kita harus mengakui jika hamper sebagian
besar jalan tol yang ada di Indonesia di bangun pada era kepemimpinan Pak
Harto.
Selain itu berbicara tentang , kemakmuran
masyarakat itu memang benar adanya , hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya
dan seringnya masyarakata berucap “Lebih enak Zaman Pak Harto”
Entahlah , bagaimana masyarakat menilai tentang
Pak Harto , tapi kita sebagai pemuda perlu ikut berfikir , kok bisa masyarakat
menganggap lebih enak hidup di zaman pak harto ,meskipun telah kita ketahui
bersama betapa sulitnya untuk berbicara , berekspresi dan berkarya pada zaman
itu.
Terus , bagaimana dengan pemimpin kita sekarang ?
. Ah sudahlaah , aku mungkin bagian dari orang orang yang pesimis terhadap
pemimpin kita saat ini . terlalu sibuk dengan urusan pribadinya , golongannya
dan keluh kesahnya .Mungkin rakyat seperti kita tak penting untuk diurusi .
Semoga pada 2014 , ada calon yang benar benar mumpuni untuk memimpin negara yang kata cak nun adalah bocoran dari surga yang bernama Indonesia .
Semoga pada 2014 , ada calon yang benar benar mumpuni untuk memimpin negara yang kata cak nun adalah bocoran dari surga yang bernama Indonesia .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar